Sifat Malu, Warisan Para Nabi Terdahulu


Sifat malu adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh setiap umat manusia. Sifat malu, warisan para nabi terdahulu sehingga pada dasarnya kita memiliki sifat tersebut. Namun penggunaan sifat ini haruslah dengan tepat karena jika tidak, kita sendirilah yang akan merugi bahkan dapat mendatangkan kesulitan dalam hidup.

Sifat Malu, Warisan Para Nabi Terdahulu

Hadits Bukhari menjelaskan mengenai sabda Rasul, yakni jika kita tidak memiliki rasa malu maka kita dapat berbuat sesuka hati. Inilah hadits mengenai sifat malu dalam Islam.

Malu merupakan salah satu akhlak yang diturunkan oleh nabi pada seluruh umatnya. Tidak ada satu nabi pun yang tidak memiliki rasa malu dan hal ini telah diketahui oleh manusia. Bahkan Rasulullah diwajibkan untuk memiliki rasa malu. Setiap generasi atau nabi pastilah melakukan akhlak yang dapat kita teladani.

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa sifat malu telah diwariskan oleh nabi secara turun temurun. Setiap akhlak terpuji selalu diturunkan pada umatnya. Hal inilah yang membuat manusia luas mengetahui warisan yang mereka peroleh dari nabi terdahulu.

Diketahui jika malu adalah fitrah bagi umat manusia. Bahkan sifat ini telah dimiliki oleh kaum Arab sejak zaman Jahliyah. Sebagai contohnya ada pada kisah Abu Sufyan ketika masih kafir. Pada saat itu dia ditanya mengenai Rasulullah oleh Heraklius. Karena rasa malu yang ia miliki maka ia menceritakan bagaimana sosok Rasul dengan apa adanya.

Bahkan rasa malu ini telah mendarah daging di kaum Arab. Hal ini tergambar dari ungkapan Abu Musa pada seorang pemuda dari kaum bani Jusyam yang kabur dari peperangan. Pada waktu itu, Abu Musa berteriak kepada pemuda tersebut apakah ia tidak memiliki rasa malu karena telah lari dari peperangan ini. Mendengar hal tersebut, pemuda itu berhenti dan melanjutkan peperangannya.

Berdasarkan hadits yang kita bahas di awal tadi masih menjadi kontroversi bagi beberapa ulama. Berikut adalah pendapat mengenai keutamaan sifat malu di dalam hadits tersebut, yaitu:

1. Mengandung ancaman
Hadits tersebut berisikan bahwa apabila kita tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hati dan Allah akan membalas setiap perbuatan kita karena Allah melihat segala apa yang terjadi di dunia ini.

2. Dimaknai dengan zahirnya
Apabila seseorang tidak merasa malu dengan perbuatan yang ia lakukan, baik itu dari pandangan Allah atau manusia ataupun tidak bertentangan dengan kebaikan, maka diperbolehkan kita melakukan hal tersebut sesuka hati kita.

3. Bukanlah ancaman, tapi informasi atau kabar
Apabila seseorang tidak memiliki rasa malu, maka ia dapat berperilaku sesuka hatinya. Malu merupakan pencegah bagi seseorang untuk berbuat keji atau maksiat. Jadi ketika seseorang tidak memiliki malu, maka dengan mudah ia akan terjerumus di pada dosa atau perbuatan maksiat.

Kita telah tahu bahwa sifat malu merupakan turunan dari nabi terdahulu, maka dapat disimpulkan jika sifat ini termasuk dalam perilaku terpuji dan hendaknya kita menanamkan sifat ini dalam diri kita. Salah satu keutamaan dari sifat ini adalah dapat mengeluarkan kebaikan. Bahkan dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa kebaikan sifat malu yang akan membawa kita dalam kebaikan.

Iman seorang hamba tidak akan sempurna jika belum memiliki sifat malu dalam hatinya. Karena malu adalah bagian dari iman. Sebagai seorang muslim hendaknya kita merasa malu ketika akan melakukan perbuatan maksiat karena kita tahu bahwa Allah selalu melihat apa yang kita lakukan meskipun itu tidak diketahui oleh manusia lainnya.

Demikian sifat malu, warisan para nabi terdahulu yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita semua.
0 Komentar untuk "Sifat Malu, Warisan Para Nabi Terdahulu"

Back To Top